Muslim (Insya Alloh) di Dublin (2)

Sembari memijit-mijit kaki sendiri yang pegal setelah seharian jalan-jalan (jalan kaki beneran) ke taman dan ke city center (lagi.. dan emang belum abis-abis itu si city center.. haha) dari pagi tadi setelah nulis part 1 jam 10 pagi tadi sampe rumah lagi jam 7. lama-lama betis bekonde beneran lah ini. (>_<)

haish, kebanyakan ngelantur. mari dilanjut bahasannya. hmm.. ayo kita ngobrolin kebutuhan pokok lain sebagai muslim setelah ibadah.. (biar kesannya alim, jadi ibadah duluan 😛)

2. makanan dan minuman

makanan dan minuman mah berlimpah di sini, tapi apa kita mau makan dan minum semaunya? wo jangan. pilih-pilih kawan.  harus yang halal dan usahain yang toyyib, ya 🙂 minuman mah agak lebih gampang bedainnya ya. nah makan ini..
gini, saya kutip seingatnya ya, temen-temen bisa cari referensi sendiri di buku, internet, atau tanya sama orang yang lebih tau, dari yang saya cari-cari dan saya percayai, semua makanan itu halal kecuali yang diharamkan. yang haram jelas, yang halal juga jelas, yang di antaranya itu yang syubhat, dan akan lebih aman kalo ditinggalkan. terus, apakah semua makanan selain yang haram itu halal di sini? (setelah ini kalo saya sebut “daging” artinya daging yang secara zat dan sifat standarnya halal, ya. misal sapi, kambing, atau ayam) saya sih ketemu penjelasannya gini. (kebetulan ini dulu juga pernah dibahas sama ustad di tausiyah ba’da Ashar di kantor dan pas saya gugling penjelasannya juga sama) perihal daging ya, kalo kita belanja di pasar yang penduduknya mayoritas muslim, kita bisa meyakinkan diri kalo daging-daging itu secara zat halal, dan proses penyembelihannya pun syar’i (pake bismillah dulu), jadi.. gausah ragu, tinggal beli, olah, dan makan. tapi, daging yang di jual di pasar umum di mana penduduk sekitar mayoritasnya bukan muslim, asumsi utamanya adalah daging-daging itu tidak disembelih menurut syariat, jadi, lebih baik kalo kita gak beli di situ.

lha opo selama di Dublin ndak makan daging ki? yo ndak demikian 🙂 beberapa kawan masih mau makan makanan di tempat umum asal gak yang jelas-jelas haram (misal babi atau alkohol) tapi alhamdulillah banget, akses ke makanan halal di Dublin sini termasuk mudah. restoran halal ternyata mudah ditemui. di deket kampus, di pusat kota, di tempat belanja tertentu, paling gak selama hampir sebulan jalan-jalan, bisa nemuu aja. kebanyakan menu Timur Tengah, menu India, atau menu Asia. daftarnya sendiri bisa dilihat di sini, di sini, di sini, atau di sini, atau gugling aja, Insya Alloh ketemu.

cuma, sebenernya harga-harga makanan di restoran atau tempat makanan siap saji di atas agak mengancam keberlangsungan hidup mahasiswa rantau. hahaha (tertawa pedih). kalo saya pribadi sih gak bisa sering-sering ke tempat-tempat itu.. relatif mahal. hahahaha. njuk piye dong? tenang, di link-link itu ada juga info soal toko-toko yang jual bahan mentah lho.. dengan sedikit kemauan, kreativitas, dan jaringan internet, kita bisa koq menyantap masakan sehat, enak, gak terlalu mahal, dan InsyaAlloh halal. hehehe

Oiya, kan gak semua bahan makanan harus beli di toko-toko halal tadi. (soalnya harga di toko-toko tadi relatif lebih mahal juga kalo dibanding swalayan umum. maklumlah, barang-barang yang dijual kadang impor, dan emang ada yang sengaja dinaikin harganya buat syiar atau buat sodaqoh)
jadi kalo dalam mode ngirit, temen-temen bisa tetep beli di swalayan umum macem LIDL, ALDI, atau TESCO. ada hal-hal yang Insya Alloh aman. misal, produk makanan non daging, makanan laut macem ikan udang atau cumi, telor, sayuran, susu, bumbu masak, roti, sereal, biskuit (kalo produk siap santap gini, liat-liat lagi ya di ingredients nya, pastiin aman 🙂 ) dan lain-lain.

 

PS : awal-awal masak saya muwales banget, mendingan makan yang instan-instan ajalah. trus rasanya jauh dari enak. tapi ya.. karena semangat survival tadi, lama kelamaan masak jadi biasa dan rasanya pun makin bisa diterima (entah feeling soal takaran bumbu jadi makin terasah atau lidah yang makin biasa makan makanan olahan sendiri. haha) oh, ya.. mungkin biar gak jeglek, mulai dari mie instan dulu, telor goreng, terus makanan beku kayak nugget atau sosis, baru lama-lama ngolah sayur, dan daging mentah (sok-sokan.. sampe sekarang baru bisa goreng cumi ajaa).  gitu lah kawan-kawan.

(bersambung lagi..)

Advertisements

One thought on “Muslim (Insya Alloh) di Dublin (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s